Macro Minitab: Cholesky Decomposition

“Sudah beberapa bulan  tidak menengok blog ini. Sampai-sampai beberapa komentar tidak saya jawab. Saya mohon maaaf. “

Akhir-akhir ini banyak tugas kuliah yang cukup memeras otak. Salah satunya tugas untuk membuat paper tentang imputasi data missing/incomplete plus membuat macro-nya di Minitab. Alhamdulillah, untuk kasus data univariate, macro-nya bisa diselesaikan. Namun pada kasus data multivariat (normal) , salah satu bagian dari algoritma metode imputasi data augmentation adalah  dekomposisi matrik Cholesky. Sayangnya waktu googling saya tidak mendapatkan.

Mau tidak mau akhirnya harus dibuat sendiri macro Minitab untuk dekomposisi  Cholesky. Dengan mencoba beberapa algoritma, alhamdulillah akhirnya macro dapat diselesaikan. Namun hasil dari macro-nya adalah matrik segitiga atas. Di bawah ini adalah codenya, simpan dengan nama cholesky.mac

MACRO

# Macro for computing the Cholesky factorization:
# Written by                     : Achmad Syahrul Choir
# Versi                               : 1.0
# Last modified              : 1th December, 2009
# Input                   MAI  : Matrix A, positive definite
#                                        p : Constant Number of variable
#
# Output MAO : Upper Triangle Matrix /Cholesky Triangle
# SOURCE : G.H Golub and Charles F. Van Loan
# Matrix COmputation, Third Edition,1996
############################################

Cholesky MAI MAO p

MCONSTANT i j k s p n
MCOLUMN v ColA.1-ColA.p ColTA.1-ColTA.p G.1-G.p w nma ntma
MMATRIX MAI MAO TMAI MA0 TMAO MAIC

#ERROR MESSAGE
Diagonal MAI w.
let n=count(w)

if p~=n
note *** ERROR *** Number of variables input differs from number of variables in matrix
exit
endif

#ERROR MESSAGE

Transpose MAI TMAI
Copy MAI ColA.1-ColA.p
Copy TMAI ColTA.1-ColTA.p
Stack ColA.1-ColA.p nma
Stack ColTA.1-ColTA.p ntma
if nma~=ntma
note *** ERROR *** matrix must be symmetric.
exit
endif

Define 0 p p MA0
copy MA0 G.1-G.p

do j=1:p
do i=j:p
let v(i)=COLA.i(j)
let k=1
while k<j
let v(i)=v(i)-G.j(k)*G.i(k)
let k=k+1
endwhile
let G.i(j)=v(i)/(v(j))**0.5

enddo
enddo

copy G.1-G.p MAO
transpose MAO TMAO
multiply TMAO MAO MAIC
name MAO ‘G=Cholesky Triangular/Upper triangular’
name MAI ‘ A=Matrix Symmetric Positife Definite’
name MAIC ‘Multiply GT (G transpose) and G’
Note Checking……….
print MAO MAI MAIC

endmacro

Saran dikritik mohon disampaikan di sini. Terima kasih

Momentum Sensus Penduduk 2010

Artikel ini dikutip dari harian kompas,  tepatnya di

Momentum Sensus Penduduk 2010
Selasa, 21 April 2009 | 03:46 WIB
Kekisruhan daftar pemilih tetap Pemilu 2009 merupakan salah satu puncak gunung es masalah data kependudukan di Tanah Air.

Secara faktual, ketidaktersediaan data kependudukan yang lengkap dan mutakhir kerap menyulitkan perencanaan dan kegiatan di lapangan, baik pemilu maupun kegiatan pembangunan.

Data sensus dan survei

Selama ini, kegiatan untuk perencanaan pembangunan yang terkait data penduduk dilakukan dengan memanfaatkan data hasil sensus dan survei dari BPS dan lembaga penelitian. Namun, perencanaan pembangunan data itu memiliki kelemahan.

Pertama, terkait ketepatan waktu (timelines). Data untuk perencanaan kegiatan pada waktu tertentu tidak match dengan waktu ketika data itu dikumpulkan sehingga akurasi perencanaan berkurang. Semakin jauh perbedaan waktu antara data yang dikumpulkan dan digunakan, hal itu akan menyebabkan akurasi perencanaan berkurang. Ini disebabkan banyak perubahan terjadi antara waktu data dikumpulkan dan saat digunakan.

Menyadari potensi perubahan itu, untuk perencanaan digunakan penyesuaian (adjustment) berdasarkan asumsi, perkiraan, atau proyeksi. Hal ini umum dilakukan pada data hasil sensus penduduk, mengingat pelaksanaan sensus dilakukan setiap 10 tahun sekali. Maka, untuk memenuhi kebutuhan data penduduk di antara dua sensus penduduk, digunakan data hasil proyeksi penduduk.

Kedua, terkait data individual. Data hasil sensus dan survei tidak dilengkapi nama dan alamat individu sehingga menyulitkan untuk kegiatan teknis operasional di lapangan. Untuk menyiasati kelemahan itu, pemerintah melakukan pendaftaran, antara lain pelaksanaan program keperluan layanan sosial, pembagian BLT, serta bantuan pendidikan dan kesehatan.

Registrasi penduduk

Untuk masa datang, penyiapan data seperti itu harus dihindari sebab akan menyebabkan pemborosan biaya dan waktu. Bahkan, terkesan pemerintah kurang mengantisipasi aneka masalah yang dihadapi masyarakat. Maka, sudah saatnya memikirkan ketersediaan data yang didasarkan pada hasil registrasi penduduk.

Jika dilakukan dengan benar, data registrasi akan memenuhi standar ketepatan waktu. Sebab, data itu terus diperbarui sesuai dengan kejadian yang dialami penduduk, seperti lahir, mati, dan pindah. Data registrasi ini juga bisa memuat nama dan alamat yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Hasil registrasi penduduk banyak digunakan negara maju sebagai data utama untuk perencanaan dan kegiatan program. Sementara hasil sensus dan survei digunakan sebagai data pendukung atau pembanding.

Untuk perencanaan program, misalnya, negara maju banyak menggunakan tabel kehidupan (life table). Tabel ini memuat data seperti penduduk menurut umur, angka umur harapan hidup, angka kematian, penduduk usia sekolah, dan pencari kerja baru. Adapun data pokok untuk mengonstruksi life table adalah kematian penduduk menurut umur yang datanya diperoleh dari registrasi penduduk. Sekadar informasi, konstruksi life table pertama kali dibuat di Inggris pada abad ke-13 berdasarkan data lahir dan meninggal yang tertulis di batu nisan kuburan.

Momentum SP2010

Sayang kita belum bisa membuat life table yang dapat menggambarkan penduduk Indonesia. Sebab, data kematian menurut umur hasil registrasi penduduk hingga kini belum ada.

Memang tidak mudah menyelenggarakan registrasi penduduk, terindikasi dari upaya lama pemerintah. Bahkan, untuk mengintensifkan penyelenggaraan registrasi penduduk, pemerintah membentuk institusi yang berwenang mengurusi soal itu, yaitu Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan, bernaung di bawah Departemen Dalam Negeri.

Salah satu penyebabnya, kurangnya perhatian aparat desa/ kelurahan dan RT/RW untuk mencatat tiap kejadian yang dialami penduduk (lahir, mati, dan pindah). Hal ini diperparah enggannya sebagian masyarakat melaporkan tiap kejadian yang dialami. Ini mungkin disebabkan sikap aparat yang kurang friendly. Dengan bertambahnya daerah pemekaran hingga ke level desa, ini kian menyulitkan penyelenggaraan registrasi penduduk.

Maka, terkait akan dilaksanakannya sensus penduduk tahun 2010 (SP2010), mungkin bisa dijadikan momentum untuk melakukan registrasi penduduk secara lengkap dan benar. Dirjen Minduk bisa memanfaatkan sensus itu sebagai data awal untuk melakukan registrasi penduduk dengan meng-up date data sesuai dengan kejadian lahir, mati, dan pindah yang dialami masyarakat.

Disadari rangkaian kegiatan itu merupakan pekerjaan besar. Agar tidak kehilangan momentum, SP2010 barangkali perlu persiapan sejak dini. Amat diharapkan hal itu bisa berhasil sehingga kekisruhan data kependudukan yang terjadi secara sistemik selama ini bisa teratasi.

Razali Ritonga Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tengah

RETURNIL VIRTUAL SYSTEM PERSONAL 2008 versi 2.01: Pengganti deepreeze!!

returnil2

Salah satu pilihan untuk mengimunkan komputer dari infeksi malware adalah dengan cara virtualisasi. Dengan virtualisasi ini, apabila komputer terserang malware, yang terkena bukanlah sistem komputer tersebut secara langsung, tetapi sistem virtual tersebut yang terkena.

Software yang memproteksi komputer dengan virtualisasi ada beberapa, namun yang cukup populer
adalah Deepfreeze. Software ini banyak dipakai oleh warnet-warnet. Namun, program ini tidaklah  gratis. Kita harus merogoh kocek cukup dalam untuk memakainya.

Software yang memiliki fungsi seperti halnya Deepfreeze adalah Returnil Virtual System (RVS). Tidak seperti Deepfreeze, RVS tersedia juga dalam versi gratis yaitu RVS Personal. RVS Personal bisa didownload di websitenya. RVS Personal ini gratis untuk pemakaian pribadi yang berarti tidak diperbolehkan digunakan untuk keperluan komersial, misalnya warnet.

Seperti halnya deepfreeze, RVS ini menerapkan teknologi virtualisasi untuk melindungi sistem
operasi Microsft Windows dari perubahan yang tidak diinginkan, baik oleh malware maupun kesalahan penggunaan. Bedanya adalah RVS ini hanya bekerja pada drive di mana Microsoft Windows diinstall. Misalnya MS Windows diintall di drive C, ketika RVS ini diaktifkan, maka segala perubahan di drive C akan hilang setelah komputer booting pada waktu berikutnya.

Hal ini berlaku pada keseluruhan partisi sistem (misalnya drive C). Jadi segala penambahan dan
pengurangan, termasuk instalasi atau perubahan (menyimpan atau menghapus data) di folder My Document (jika folder ini berada di drive C ) akan hilang dan kembali seperti semula seperti sebelum RVS ini diaktifkan. Sedangkan perubahan di partisi lain (misalnya drive D) tetap permanen. Karena itu ketika mengaktifkan RVS, pastikan bahwa data tersimpan di drive selain di drive tempat sistem berada.

Apabila komputer hanya memiliki satu partisi, RVS memiliki fasilitas untuk membuat drive virtual,
sehingga data bisa disimpan di drive tersebut. Jadi drive virtual ini berfungsi
seperti partisi non sistem sehingga kita bisa menyimpan secara permanen data di
sini, baik RVS aktif atau tidak.

Artikel lengkapnya, bisa didownload di sini

Sensus Penduduk akan dilaksanakan tahun 2010. Pastikan Anda dihitung!!!!

Pada tahun 2010 nanti, BPS kembali melaksanakan kegiatan sensus yaitu Sensus Penduduk 2010 (SP 2010). Sensus Penduduk merupakan kegiatan yang sangat penting bagi perencanaan pembangunan karena data yang didapat berupa data kependudukan yang dapat menggambarkan keadaan penduduk Indonesia hingga wilayah administrasi terkecil.

Sebenarnya kegiatan sensus ini pernah dilaksanakan pada masa sebelum Indonesia merdeka oleh Pemerintah Hindia Belanda yaitu pada tahun 1930. Selanjutnya setelah Indonesia merdeka telah dilakukan 5 kali sensus penduduk, yaitu pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990, dan 2000. Sedangkan Sensus Penduduk 2010 adalah sensus ke-6 yang akan dilaksanakan pada tahun 2010. Acuan yang digunakan dalam pelaksanaan Sensus Penduduk adalah UU No. 16 Tahun 1997 tentang Statistik, Peraturan Pemerintah No 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik, dan Rekomendasi PBB (United Nations).

Sensus Penduduk merupakan suatu rangkaian kegiatan pengambilan “stok” (stock taking) penduduk pada suatu titik waktu tertentu yang mencakup seluruh atau sebagian wilayah geografis suatu negara sejak tahapan persiapan sampai ke publisitas hasilnya. Titik waktu SP2010 adalah 31 Mei 2010 pukul 24.00. Tanggal ini disebut sebagai hari sensus (census date).

Pendataan Sensus Penduduk dilakukan secara door to door pada seluruh penduduk Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal dalam wilayah geografis Indonesia, baik yang bertempat tinggal tetap maupun yang tidak bertempat tinggal tetap. Anggota korps diplomatik negara lain beserta keluarganya, meskipun menetap di wilayah geografis Indonesia, tidak dicakup dalam pencacahan sensus penduduk. Cara pencacahan yang dipakai dalam Sensus Penduduk 2010 adalah kombinasi antara de jure dan de facto. Bagi mereka yang bertempat tinggal tetap dipakai cara de jure, yaitu dicacah di tempat mereka tinggal secara resmi, sedangkan penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap dicacah dengan cara de facto, yaitu dicacah di tempat dimana mereka ditemukan oleh petugas lapangan sensus.

Manfaat Sensus Penduduk

Data SP2010 mempunyai kegunaan strategis secara internal sebagai: koreksi dan pengendali data kependudukan, basis proyeksi penduduk dekade 2010-an, basis untuk pemutakhiran dan pengembangan KCI survei rumah tangga decade 2010-an, dan basis pembangunan statistik wilayah kecil. Secara eksternal data SP2010 digunakan sebagai: basis pembangunan statistik administrasi kependudukan dan evaluasi pencapaian sasaran pembangunan global.

Instrumen dan Metode Pencacahan

Instrumen utama SP2010 berupa dua jenis kuesioner untuk mendaftar bangunan tempat tinggal dan mencacah penduduk secara lengkap. Kuesioner L untuk melakukan pendaftaran bangunan dan rumahtangga. Sedangkan Kuesioner C untuk mengumpulkan data individu penduduk dan rumahtangga. Pertimbangan yang digunakan sebagai dasar pembuatan kuesioner C adalah rekomendasi PBB (UN Recommendations), relevansi dengan MDGs, pengalaman sensus penduduk sebelumnya, pengalaman sensus yang dilaksanakan negara-negara lain, komponen perubahan penduduk, dan variabel yang sesuai hanya jika dikumpulkan melalui pencacahan lengkap (agama, bahasa, suku, kecacatan, arus migrasi, dsb).

Metode pencacahan Sensus Penduduk 1971, 1980, dan 1990 mencakup pencacahan lengkap dan pencacahan sampel. Sedangkan Sensus Penduduk 2000 hanya dilakukan secara lengkap dengan mengumpulkan 15 variabel demografi, sosial dan kegiatan ekonomi penduduk. Pada Sensus Penduduk 2010 pencacahan dilakukan secara lengkap dengan mengumpulkan variabel yang lebih banyak dibandingkan dengan SP2000 yaitu sebanyak 43 variabel.

Berbeda dengan Sensus Penduduk sebelumnya, untuk mencapai akurasi yang tinggi, pencacahan pada SP 2010 akan dilakukan secara tim. Setiap tim terdiri dari 1 orang Koordinator Tim dan 3 (tiga) orang pencacah, dimana setiap tim akan bertanggung jawab menyelesaikan 4-6 Blok Sensus (BS).

Berbeda dengan kegiatan BPS pada umumnya, Sensus Penduduk adalah kegiatan besar yang membutuhkan peran serta banyak pihak termasuk seluruh komponen masyarakat. Hal ini karena data hasil Sensus Penduduk merupakan data pijakan bagi program-program pemerintah yang berkelanjutan. Merupakan tantangan yang besar bagi BPS untuk dapat memberikan advokasi kepada masyarakat agar mendukung semua tahapan kegiatan SP2010 dan memastikan bahwa data SP2010 merupakan sumber data dasar kependudukan yang kredibel. Oleh Karena itu,Pastikan Anda Dihitung!

Dikutip dari:

http://www.bps.go.id/sp2010/index.shtml